Arti Thaharah

Thaharah sering dibahas dalam kitab-kitab fiqih. Biasanya bab thaharah ditaruh dalam bab pertama di kitab-kitab fiqih.

Hal ini menunjukkan jika kedudukan ilmu thaharah sangat penting dan fundamental. Thaharah secara mudah membahas terkait hukum bersuci.

Ada banyak amalan yang mensyaratkan adanya thaharah di awal. Seperti wudhu atau tayamum sebelum shalat. Arti thaharah bisa dijabarkan dengan arti menurut bahasa dan istilah.

Arti Menurut Bahasa

Arti thaharah menurut bahasa adalah suci dan bersih. Thaharah berasal dari kata thahura-thuhuran. Keduanya memiliki makna bersih.

Padanan kata arti thaharah adalah suci (Nazahah), (Nadlafah) dan terbebas (Khulus) dari kotoran (Danas). Secara singkat arti dari thaharah secara bahasa yaitu suci dan bebas dari kotoran.

Arti Menurut Istilah

Sementara thaharah menurut istilah atau syar’i adalah menghilangkan kotoran dengan media yang suci dengan tata cara yang ditentukan oleh syariat.

Media yang suci bisa berupa air atau debu. Sementara pengertian yang ditentukan oleh syariat adalah tata cara, urutan dan hukumnya diatur dalam syariat. Sebagaimana tata cara wudhu dan tayamum juga sudah diatur kaidahnya dalam ilmu syariat.

Pengertian lain, makna thaharah secara istilah juga mencakup mensucikan dari dari segala bentuk kotoran baik jasmani maupun rohani.

Jadi bukan hanya bersih dari kotoran jasmani tapi juga kotoran rohani seperti dosa dan kesalahan. Kita bisa mensucikan kotoran rohani dengan istighfar dan memperbanyak amal saleh.

Landasan Hukum

Landasan hukum thaharah dalam Isla adalah Alquran surah Al Maidah ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Maidah:6)

Sementara landasan hukum dari hadis diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah..” (HR Muttaffaq ‘alaih).

Macam-Macam Thaharah

macam thaharah

Thaharah atau bersuci seperti definisi di atas terdiri dari bersuci secara lahiriah dan bersuci secara batiniah (rohani). Bersuci secara lahirian berarti kita bebas dari najis dan hadas.

Thaharah Lahiriah

Thaharah lahiriyah adalah bersuci dari segala najis dan hadast. Cara untuk menghilangkan najis adalah dengan membasuh lewat air atau debu baik dengan wudhu, dibasuh, mandi atau tayamum jika tidak ditemukan air.

Thaharah Batiniah

Adalah suci secara ruh dan jiwa. Hal pertama yang harus dilakukan setiap Muslim adalah memastikan dirinya bersih dari sifat syirik. Caranya dengan menancapkan pemahaman tauhid dalam hatinya.

Selepas bersih dari sifat syirik, kita harus berusaha keras agar kita bersih dari perbuatan maksiat. Caranya dengan mengedepankan akhlak yang baik sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.

Macam-macam Najis

Tadi dibahas kondisi thaharah adalah bebas dari najis. Najis sendiri dibagi menjadi tiga bagian besar yakni:

Najis Mukhofafah (Ringan)

Najis ringan ini bisa terkena dari air kencing bayi laki-laki yang umurnya kurang dari dua tahun dan hanya mendapatkan asupan dari ibunya dalam bentuk ASI. Dalam arti lain belum makan makanan selain ASI.

Bagaimana cara membersihkannya? thaharahnya cukup dengan memercikkan air di bagian yang terkena najisnya saja.

Najis Mutawasithah (Sedang)

Najis ini termasuk air kencing bayi perempuan sebelum dua tahun, air kencing pada umumnya dan kotoran. Cara menghilangkan najis mutawasithah adalah dengan menghilangkan unsur rasa, bau, warna dan zat. Thaharahnya bisa dengan mengaliri air atau mencucinya.

Termasuk di bagian yang kita yakini ada najis mustawasitah tapi sudah mengering, bisa dialiri air atau dicuci.

Najis Mugholadhah (Berat)

Najis mugholadhah adalah najis yang sifatnya sudah ditentukan oleh syariat. Termasuk di dalamnya air liur dan darah anjing serta babi.

Cara menyucikan (thaharah) najis berat ini adalah dengan membasuh bagian yang terkena najis tersebut dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan debu/tanah.

Landasan hukum atau dalil soal najis mugholadhah adalah hadis Nabi SAW, dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaklah ia mencuci bejana tadi sebanyak tujuh kali”. (HR Bukhari dan Muslim).

Macam-macam Hadas

Selain harus bebas dari najis, pengertian thaharah adalah bersih dari hadas. Pengertian hadas adalah kondisi seseorang yang tidak dalam kondisi suci karena sebab-sebab tertentu yang diatur dalam syariat.

Hadas sendiri terbagi menjadi dua yakni:

Hadas Besar

Hadas besar adalah kondisi seseorang tidak suci karena sebab haid, nifas, junub atau mengeluarkan mani. Cara thaharah bagi seseorang yang mengalami hadas besar adalah dengan mandi wajib atau sering dikenal dengan mandi junub.

Hadas Kecil

Hadas kecil adalah seseorang dalam keadaan tidak suci karena disebabkan buang air kecil atau buang air besar. Cara thaharah untuk hadas besar adalah dengan berwudhu atau tayamum jika tidak ditemukan air.

Macam-macam Air dalam Thaharah

macam-macam air thaharah

Air adalah salah satu elemen penting dalam thaharah. Air memiliki beberapa macam kondisi dan sifat. Dan masing-masing kondisi serta sifatnya juga menentukan kegunaan air dalam thaharah.

Air Suci dan Menyucikan

Air suci dan menyucikan adalah air yang secara sifat adalah suci dan bisa digunakan untuk menyucikan atau thaharah. Termasuk diantaranya bisa digunakan untuk wudhu dan mandi besar.

Diantara air yang suci dan menyucikan adalah air hujan, air sungai, air danau/telaga, air laut, air embun, mata air, air salju dan air sumur.

Air Suci Tidak Menyucikan

Jenis air ini adalah secara zat bersifat suci tapi tidak bisa digunakan untuk thaharah atau bersuci. Diantara jenis air ini adalah air teh, air kelapa, air minuman soda, air minuman pemanis, susu dan lainnya.

Air Musyammas

Air jenis ini adalah air yang suci tapi makruh digunakan untuk bersuci. Awalnya air musyammah adalah air yang suci dan menyucikan tapi karena kondisi berubah menjadi makruh untuk bersuci.

Jenis air ini adalah air yang ditampung dalam bejana emas atau perak dan terkena sinar matahari. Sifat air yang berada dala bejana dan terkena sinar matahari bisa rusak dan justru berbahaya bagi kesehatan. Sehingga hukumnya makruh.

Air Mutanajis

Yakni air yang sudah terkena najis. Ciri-cirinya air ini sudah berubah dari segi warna, bau, zat dan rasa. Jika salah satu rusak sifatnya maka air yang suci berubah menjadi air mutanajis.

Jurnalis Media Islam. Penulis beberapa buku Islam. Orang Desa.

Leave a Comment