Dalil Puasa

Puasa adalah salah satu ibadah yang diajarkan dalam Islam. Kedudukan hukum puasa pun bermacam-macam tergantung kondisi dan situasi.

Ada hukum puasa yang sifatnya wajib seperti puasa Ramadhan, puasa nazar dan kafarat. Ada puasa sunnah seperti Senin Kamis, puasa daud, puasa syawal. Bisa juga hukum puasa menjadi haram seperti puasa saat Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari tasyrik.

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas seluk beluk dalil puasa termasuk puasa wajib dan sunnah. Sebuah amal akan bernilai jika memiliki dua hal.

Pertama ilmu dan kedua ikhlas. Ilmu mencakup tentang dalil atau dasar perintah dari amal, keutamaan, termasuk tata cara sesuai yang diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Kedua adalah ikhlas, yakni amal benar-benar diniatkan hanya untuk Allah SWT. Bukan mengharapkan balasan selain dari Allah SWT semata.

Maka menjadi penting untuk mengetahui dalil-dalil dari setiap puasa yang ada di dalam Islam. Kita akan bahas dalil-dalil puasa wajib terlebih dahulu kemudian dalil puasa yang termasuk puasa sunnah.

Puasa Ramadhan

dalil puasa ramadhan
time magazine

Puasa Ramadhan adalah salah satu puasa wajib. Kewajiban ini tertuang dalam surah Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam ayat ini dimulai dengan sebuah perintah “Kutiba”. Para ulama mendefinisikan perintah dengan awalan “kutiba” berarti perintah yang wajib dan sudah ditentukan waktunya.

Dosen Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta Ali Mursyid menerangkan, kata “kutiba” selain bermakna diwajibkan juga memiliki arti sudah ditentukan atau ditetapkan. Selain itu kata “kutiba” juga bermakna dijadikan dan juga menjadikan.

Keterangan-keterangan tadi menunjukkan jika puasa Ramadhan adalah puasa yang sudah ditetapkan kewajibannya. Puasa Ramadhan juga menjadi salah satu pilar diantara rukun Islam.

Rasulullah SAW bersabda, “Islam dibangun di atas lima (pondasi), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR Bukhari).

Hadits di atas menguatkan tentang dalil puasa Ramadhan sebagai puasa wajib. Sebab kedudukan puasa Ramadhan dalam rukun Islam bukanlah main-main.

Seseorang yang mengingkari kewajiban puasa sebagaimana pengingkaran terhadap rukun Islam yang lain akan berkonsekuensi terhadap akidahnya. Misalnya, beberapa ulama bahkan menghukumi kafir orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya.

Puasa Kafarat

Puasa kafarat adalah puasa hukuman bagi seorang Muslim yang telah melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang diatur dalam syariat.

Jenis perbuatan yang mengandung hukuman puasa kafarat juga sudah diatur. Durasi puasa kafarat juga sudah diatur disesuaikan dengan tingkat perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.

Puasa kafarat hukumnya wajib sebagai bentuk sanksi seseorang. Dalil Puasa Kafarat adalah hadits riwayat Imam Muslim, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Bahwa seorang laki-laki berbuka pada bulan Ramadhan, Maka Rasulullah Saw menyuruhnya membayar kafarat dengan memerdekakan seorang budak, atau berpuasa selama dua bulan terus-menerus atau memberi makan kepada 60 orang miskin’.”

Dalam hadits ini dijelaskan tentang kafarat atau sanksi bagi seseorang yang melakukan hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan.

Kafarat yang diberikan pun bersifat opsional atau pilihan. Bisa memerdekakan budak, puasa kafarat dua bulan terus menerus atau memberi makan kepada 60 orang miskin.

Pilihan memerdekaan budak di era sekarang jelas tidak bisa dilaksanakan. Maka tinggal pilihan puasa kafarat atau memberi makan orang miskin.

Berikut ini adalah perbuatan yang bisa menimbulkan kafarat dan jumlah kafaratnya:

Hubungan Suami Istri Siang Hari di Bulan Ramadhan

Jika terjadi melakukan ini maka yang melakukan kafarat adalah keduanya baik suami maupun istri. Kafaratnya adalah

-Membebaskan budak atau
-Puasa kafarat dua bulan berturut-turut atau
-Memberi makan 60 fakir miskin

Suami Mengucapkan Zihar

Zihar adalah ucapan seorang suami kepada istri yang menyamakan istrinya dengan ibunya. Dengan maksud mengharamkan dirinya berhubungan dengan istrinya.

Zihar secara harafiah bermakna punggung. Maksudnya suami menyamakan badan istri seperti halnya badan ibu sehingga haram berhubungan badan.

Ucapan Zihar bisa seperti “Kamu seperti punggung ibuku.” “Aku mengharamkan kamu sebagaimana ibuku dan saudariku.” dan ucapan-ucapan yang sejenisnya.

Zihar adalah sebuah perkataan yang tidak main-main. Maka seorang suami tidak boleh bercanda dengan menggunakan kalimat zihar kepada istrinya.

Soal konsekuensi zihar ini, Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang menzihar istrinya, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan budak, maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka barangsiapa yang tidak kuasa hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin.” (QS Al-Mujadilah: 3-4)

Kafarat zhihar sama halnya dengan kafarat suami istri yang berhubungan badan pada siang hari di bulan Ramadhan. Yakni:

-Membebaskan budak atau
-Berpuasa dua bulan berturut-turut atau
-Memberi makan enam puluh orang miskin.

Puasa dua bulan berturut-turut harus dilakukan tanpa putus kecuali ada uzur syari seperti sakit. Jika sudah hilang uzurnya maka wajib meneruskan dan menyempurnakan menjadi dua bulan.

Setelah mengucapkan zihar, suami sama sekali tidak boleh berhubungan badan dengan istrinya sampai dia melakukan salah satu diantara kafarat yang diperintahkan.

Menghilangkan Nyawa Binatang Saat Ihram

Seseorang yang sedang ihram baik saat haji maupun umrah ada sejumlah larangan-larangan yang diberikan. Salah satunya tidak boleh menghilangkan nyawa binatang buruan.

Nyawa buruan ini bisa beberapa binatang seperti binatang ternak. Sementara binatang yang boleh dibunuh saat kondisi ihram adalah ular, kalajengking, tikus, anjing gila dan binatang buas yang mengganggu.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang binatang yang boleh dibunuh oleh orang yang sedang berihram. Nabi SAW bersabda, “Yaitu ular, kalajengking, tikus, anjing gila, dan binatang buas yang mengganggu.”

Nah kafarat bagi orang berihram yang membunuh binatang adalah:
-Mengganti jumlah hewan ternak yang dihilangkan nyawanya atau
-Berpuasa sejumlah hari binatang ternak yaang dihilangkan (puasa satu hari untuk 600 gram berat binatang)
-Memberi makan orang miskin

Sumpah Palsu

Sumpah dalam agama Islam adalah persoalan yang serius. Ucapan Demi Allah maupun ucapan sumpah yang lain adalah sebuah ucapan yang tidak bisa dipandang remeh.

Maka ada konsekuensi serius pula jika kita melanggar sumpah yang kita ucapkan. Ada kafarat bagi orang yang melakukan sumpah palsu atau melanggar apa yang menjadi sumpahnya.

Kafarat bagi orang yang melakukan sumpah palsu termatub dalam surah Al Maidah ayat 89.

“Kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu langgar. ” (QS Al-Maidah: 89)

Dari ayat diatas ada beberapa pilihan kafarat melakukan sumpah palsu yakni:
-Memberi makan 10 orang miskin atau
-Memberi pakaian kepada orang miskin atau
-Memerdekaan budak atau
-Puasa kafarat selama tiga hari

Menghilangkan Nyawa Manusia Secara Tidak Sengaja

Tujuan Islam hadir salah satunya adalah menjaga nyawa. Maka nilai nyawa seorang Muslim begitu mahal adanya. Ada konsekuensi seseorang jika menghilangkan nyawa seorang Muslim meski tidak disengaja.

Secara hukum soal menghilangkan nyawa ini ada dalil dari surah An-Nisa ayat 92. “Dan tidaklah layak bagi seorang Mukmin membunuh seorang Mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia Mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yangMukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang Mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisa:92).

Jadi kafarat menghilangkan nyawa tanpa sengaja adalah:
-Memerdekaan budak dan membayar diyat atau
-Puasa kafarat dua bulan berturut-turut

Puasa Nazar

dalil puasa nazar, kafarat, sunnah, wajib, daud, senin kamis
t3.com

Puasa nazar adalah salah satu puasa yang wajib ditunaikan. Kewajiban puasa nazar ini mengikuti kewajiban dari penunaian nazar itu sendiri.

Nazar secara istilah adalah sebuah janji untuk melakukan amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang tidak masuk sebagai ibadah yang sudah diwajibkan.

Dalil Puasa Nazar adalah hadits Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia mentaati Allah dan barangsiapa yang bernazar untuk durhaka kepada Allah, maka janganlah ia melakukannya.” (HR. Bukhari dari Aisyah).

Jadi nazar harus dengan amalan sunnah atau fardhu kifayah. Para ulama tidak memperbolehkan nazar dengan sesuatu yang makruh atau haram. Sehingga tidak bisa misalnya bernazar, “Jika saya lulus ujian saya akan mabuk minuman keras” atau perbuatan haram yang lain.

Jika tidak bisa bernazar dengan sesuatu yang wajib karena ibadah wajib sudah ditentukan kewajibannya atas hamba. Sehingga tidak boleh bernazar misal,”Jika saya diterima PNS saya akan shalat lima waktu.”

Nazar bisa dilakukan dengan ibadah sunnah seperti puasa, bersedekah atau ibadah sunnah lainnnya. Ibadah yang awalnya bernilai sunnah maka berubah menjadi wajib jika ia berlandaskan pada nazar.

Misal seseorang bernazar “Jika saya bisa melakukan pekerjaan A maka saya akan puasa Senin dan Kamis.” Puasa Senin dan Kamis, hukum awalnya adalah sunnah. Karena digunakan sebagai puasa nazar, maka hukumnya berubah menjadi wajib.

Setelah membahas puasa wajib, ada beberapa puasa sunnah yang akan kita bahas. Diantaranya:

Puasa Syawal

Salah satu puasa sunnah yang utama adalah puasa Syawal. Puasa Syawal dikerjakan setelah sebulan penuh kita menunaikan puasa Ramadhan.

Dalil Puasa Syawal adalah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR Muslim).

Puasa Syawal keutamannya sangat besar. Kita seperti puasa setahun penuh. Secara harfiah mungkin tidak banyak orang yang sanggup melakukan puasa setahun penuh.

Apakah mengerjakan puasa syawal harus urut atau tidak? Pertanyaan ini sering disampaikan banyak orang. Jika kita mencermati dalil puasa Syawal di atas, tidak disebutkan harus dikerjakan secara urut.

Hal ini sejalan dengan pendapat Ibnu Qudamah yang mengatakan tidak ada bedanya puasa Syawal berurutan atau tidak. Baik di awal Syawal maupun di akhir. Redaksi hadits di atas menurut Ibnu Qudamah juga tidak menunjukkan pembatasan.

Jadi puasa Syawal tetap bisa dikerjaan baik secara berurutan maupun tidak berurutan selama dikerjakan di bulan Syawal.

Puasa Senin Kamis

Puasa sunnah yang sering diamalkan adalah Puasa Senin Kamis. Dalil Puasa Senin Kamis adalah hadist riwayat Ima Tirmidzi, “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR Tirmidzi).

Dalil ini menunjukkan jika amalan seseorang diangkat kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis. Dan Nabi SAW mencontohkan saat diangkatnya amal lebih baik seorang Mukmin dalam kondisi puasa.

Dalil puasa Senin Kamis juga diriwayatkan dari Aisyah RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW biasa memilih berpuasa pada hari Senin dan Kamis (HR Nasai dan Ibnu Majah).

Puasa Daud

Puasa Daud adalah salah satu puasa sunnah yang juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Puasa Daud adalah mencontoh puasanya Nabi Daud AS.

Puasa Daud dilakukan dengan selang-seling. Sehari puasa, sehari tidak. Dalil Puasa Daud adalah hadits Rasulullah SAW riwayat Imam Bukhari.

“Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari no. 1131).

Betapa besar keutamaan Puasa Daud karena puasa ini adalah sebaik-baik puasa di sisi Allah SWT. Dengan mengamalkan Puasa Daud kita mendapatkan banyak keutamaan, keutamaan puasa yang paling dicintai Allah SWT dan keutamaan meniru sunnah Nabi SAW.

Puasa Rajab

dalil puasa syawal, rajab, daud, senin kamis, nazar, kafarat, ramadhan, wajib, sunnah
the independent

Pembahasan puasa Rajab adalah pembahasan yang cukup menyita perhatian diantara puasa sunnah. Sebab ada perbedaan pandangan tentang diperbolehkannya puasa khusus di bulan Rajab. Dalil Puasa Rajab juga mengacu kepada dua hal tersebut.

Ada dua pendapat besar tentang Puasa Rajab. Ada yang membolehkan ada yang menolak. Kedua pendapat ini didasarkan dari dalil Puasa Rajab berupa hadits berikut:

Sahabat Al-Bahily ini mendatangi Nabi SAW, setelah bertemu dan menyatakan masuk Islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang lagi menemui Nabi.

“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal saya,” tanya Kahmas,

“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang menemui anda setahun yang lalu,” jawab sahabat

“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari, sejak saya berpisah dengan anda,” jawab sahabat.

Menyadari semangat sahabat ini untuk berpuasa, Nabi SAW menasihatkan, “Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (Ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.”

Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan puasa sunah,

“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,

“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).

Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dari hadits di atas ada dua kelompok yang menafsirkan. Satu yang mengganggap hadits di atas dhaif sehingga tidak bisa dijadikan patokan amal.

Kelompok kedua adalah menganggap hadits di atas shahih sehingga bisa diamalkan sebagai dalil Puasa Rajab yang termasuk puasa di bulan haram.

Secara singkat berikut uraian dua pendapat terkait Puasa Rajab

Menolak Khusus Puasa Rajab

Kelompok ini berpendapat tidak ada dalil khusus mengenai amalan puasa Rajab. Beberapa ulama dikatakan hadits-hadits seputar ibadah di bulan Rajab adalah dhaif dan lemah.

Ibnu Hajar berpendapat tidak ada riwayat shahih tentan dalil Puasa Rajab. Termasuk tidak ada dalil puasa di tanggal berapa di bulan Rajab, atau shalat tahajud di waktu tertentu pada bulan Rajab.

Imam Ibnu Rajab menambahkan tidak ada satu dalil sahih dari Nabi SAW tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus.

Menerima Puasa Rajab

Kelompok ini menerima adanya puasa Rajab. Dalil puasa Rajab yang diambil adalah dialog antara Utsman bin Hakim dengan Sa’id Ibnu Jubair.

“Utsman bin Hakim al-Anshari berkata, ‘Saya pernah bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab. Said menjawab, ‘Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Beliau SAW selalu berpuasa, dan Beliau tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga Beliau tidak puasa,’” (HR Muslim).

Imam Nawawi dalam masalah ini berpendapat, tidak ada larangan dan kesunahan khusus untuk berpuasa di bulan Rajab. Hukumnya sama dengan puasa-puasa di bulan lain.

Hukumnya disamakan dengan sunnah berpuasa di bulan haram, termasuk diantaranya Puasa Rajab.

Nah demikian uraian terkait dalil-dalil puasa. Mulai dari puasa wajib seperti Ramadhan, Kafarat dan Nazar. Termasuk pembahasan dalil puasa sunnah seperti puasa syawal, Senin Kamis, Daud dan Puasa Rajab.

Adanya perbedaan pandangan soal fikih dari para ulama adalah sesuatu yang lumrah. Masing-masing memiliki dasar hukum yang diambil.

Pembaca bisa memilih dengan melakukan telaah dan kajian diantara pendapat-pendapat ulama tersebut sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam. Dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) kita harus memegang prinsip “Bekerjasama dala hal-hal yang disepakati dan Saling Menghormati dala Hal-hal yang tidak disepakati”.

Allahua’lam.

Jurnalis Media Islam. Penulis beberapa buku Islam. Orang Desa.

Leave a Comment