Hukum Meninggalkan Shalat

Shalat adalah bagian fundamental dalam agama Islam. Shalat menjadi salah satu rukun Islam. Kedudukan rukun Islam ibarat penopang sebuah bangunan. Ketiadaan salah satunya bisa menyebabkan bangunan Islam tidak utuh.

Keutamaan shalat yang sangat besar menunjukkan kedudukan shalat yang tinggi. Hukum meninggalkan shalat wajib dengan sengaja amat besar konsekuensinya.

Shalat adalah amalan yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah ditanya salah seorang sahabat, “Apakah amalan yang paling afdhal (terbaik)?” Beliau SAW menjawab, “Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud RA mengatakan, “Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau SAW, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ibnu Mas’ud RA mengatakan lagi, “Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau SAW menjawab, “Jihad di jalan Allah.”

Begitu besarnya kedudukan shalat sehingga menjadi wajar saat orang-orang yang meninggalkan shalat fardhu mendapatkan ancaman dosa yang cukup serius.

Kita akan bahas beberapa pendapat mengenai hukum meninggalkan shalat. InsyaAllah akan dilengkapi beberapa dalil dari para ulama yang membahas permasalahan ini.

Hukum Meninggalkan Shalat Fardhu

Meninggalkan shalat fardhu konsekuensinya cukup berat dan besar. Ada beberapa hadis dan pendapat ulama yang menyebutkan beratnya konsekuensi meninggalkan shalat fardhu.

Secara umum hukum meninggalkan shalat fardhu seperti shalat Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya bisa dibagi dalam dua bahasan

Jika Mengingkari Kewajibannya

Jika seorang Muslim meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban dari shalat, maka ia bisa dihukumi telah keluar dari Islam.

Sebab, jika ia mengingkari kewajiban shalat, sama halnya dia sedang mengingkari rukun Islam dimana shalat menjadi salah satu rukunnya.

Mengingkari kewajiban shalat adalah tindakan pengingkaran paling tinggi. Sehingga konsekuensinya juga cukup berat yakni dihukumi keluar dari Islam.

Pendapat ini disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu yang berkata,”Jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari wajibnya shalat, atau ia mengingkari wajibnya shalat walaupun tidak meninggalkan shalat, maka ia kafir murtad dari agama Islam berdasarkan ijma ulama kaum Muslimin.”

Dari pendapat Imam Nawawi juga didapatkan pendapat jika secara iman seseorang sudah mengingkari kewajiban shalat, sementara secara fisik dia masih tetap melaksanakan shalat maka ia pun tetap dihukumi keluar dari Islam.

Jika Tidak Mengingkari Kewajiban Shalat

hukum meninggalkan shalat fardhu

Seseorang yang meninggalkan shalat tetapi tidak mengingkari kewajiban shalat, maka hukumnya diperselisihkan oleh para ulama. Ada beberapa pendapat ulama yang berbeda-beda dalam hal ini

Tetap Dihukumi Keluar dari Islam

Pendapat ini diambil oleh sebagian ulama dari kalangan Hambali. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim

Ulama yang berpendapat di atas biasanya menggunakan dasar hukum dari hadis Rasulullah SAW,“Pembatas bagi antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim).

Kelompok ini berpendapat meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia bisa dihukumi kafir dan keluar dari Islam. Tidak cukup dengan taubat nasuha, seseorang yang terus menerus meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja harus kembali dalam Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat.

Tidak Kafir Tapi Hukuman Mati

Pendapat ini diambil oleh sebagian ulama dari kalangan Maliki dan Syafi’i. Seseorang yang meninggalkan shalat tidak kafir tetapi dihukum oleh ulil amri dengan hukuman mati.

Di Indonesia, penerapan pendapat ini akan sulit dilakukan karena dasar hukum di Indonesia tidak menerapkan hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat.

Seperti halnya hukum berzina, seseorang di Indonesia yang terbukti melakukan zina jika sudah menikah tidak bisa dihukumi dengan hukum rajam.

Beberapa ulama berpendapat, yang bisa dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat secara sengaja adalah dengan melakukan taubat nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh. Cirinya menyesal dengan sangat, berjanji tidak akan mengulangi lagi dan memperbanyak amal saleh.

Tidak Kafir Tapi Dipenjara

Pendapat ini diambil oleh sebagian ulama dari kalangan Hanafi. Seseorang yang meninggalkan shalat secaraa sengaja maka ia tidak dihukumi kafir. Tapi dipenjara sampai ia kembali shalat.

Pendapat ini juga belum diakomodir oleh hukum positif di Indonesia. Tetapi semangatnya sama. Memberikan hukuman dengan tujuan akhir kembali melakukan shalat.

Sehingga orang-orang yang meremehkan shalat dengan meninggalkan shalat fardhu harus melakukan taubat nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh. Hanya Allah SWT Dzat yang menerima taubat.

Tidak Kafir Tapi Berdosa Besar

Pusat Kajian hadits yang dipimpin oleh KH Ahmad Lutfi Fathullah menerangkan soal kedudukan hadis, “Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia sungguh telah kafir secara tegas.”

Menurut Pusat Kajian hadits, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabari melalui Anas bin Malik RA. Secara kedudukan hadis ini dinilai shahih oleh Imam As-Suyuthi.

Namun, pendapat berbeda diberikan oleh Syekh Al Bani yang menyebut hadis ini dhaif. Menurut Pusat Kajian hadits, makna dari hadits di atas adalah orang yang sengaja meninggalkan shalat karena keyakinan shalat tidak wajib, maka ia masuk dalam hukum kafir.

Sementara jika seseorang meninggalkan shalat karena malas, kesibukan dunia atau sebab lain tetapi tidak mengingkari kewajiban shalat maka ia tetap seorang Muslim tetapi berdosa.

Orang yang meninggalkan shalat karena malas harus mendapatkan nasihat agar segera bertaubat dan kembali menunaikan shalat sebagai kewajiban seorang Muslim.

Meninggalkan Shalat Jumat

hukum meninggalkan shalat jumat
borobudurnews

Dalam perkara meninggalkan shalat Jumat yang juga wajib bagi Muslimin laki-laki, ada beberapa hadits yang menyebutkan konsekuensinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang meninggalkan tiga kali ibadah shalat Jumat tanpa uzur, niscaya ia ditulis sebagai orang kafir atau munafik,” (HR At-Thabarani).

Dalam hadis ini disebutkan jika konsekuensi meninggalkan shalat Jumat bisa dihukumi dengan sifat orang munafik. Tatapi dalam hadits ini ada prasyaratnya sebelum sampai kepada hukuman.

Pertama meninggalkan shalat jumat 3 kali berturut-turut. Kedua tanpa ada uzur. Artinya jika ada uzur atau alasan yang dibenarkan oleh syariat maka orang ini tidak bisa dihukumi sebagai munafik.

Ada hukum lain meninggalkan shalat jumat adalah dikunci hatinya oleh Allah SWT. Hal ini didasarkan pada hadits,”Siapa yang meninggalkan 3 kali shalat jumat karena meremehkan, niscaya Allah menutup hatinya.” (HR At-Tirmidzi, Daruquthni).

hadits diatas diterangkan dengan sangat baik oleh Imam Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj seperti dilansir dari situs resmi NU Online.

Menurut Imam Ramli tindakan meninggalkan shalat Jumat adalah maksiat. Hukum ini mutlak tidak memperhitungkan apakah dia meninggalkan secara berturut-turut atau tidak.

Selain masuk kategori maksiat, meninggalkan shalat Jumat bagi seorang muslim laki-laki tanpa ada alasan syar’i adalah ditutup hatinya. Allah menyegel hatinya dengan sesuatu yang dapat menghalanginya dari sebuah kebenaran dan nasihat.

Uzur Syar’i Boleh Meninggalkan Shalat Jumat

Lalu apa saja yang dimaksud uzur sya’ri seseorang boleh meninggalkan shalat Jumat. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menyebutkan beberapa uzur sya’ri diperbolehkannya meninggalkan shalat Jumat

1. Hujan yang bisa membawasi pakaian
2. Salju
3. Dingin
4. Sakit Berat
5. Kekhawatiran atas keselamatan jiwa, kehormatan dan harta benda.

Kekhawatiran atas keselamatan jiwa bentuknya macam-macam. Bisa berupa wabah, adanya bencana alam, adanya kerusuhan yang mengancam jiwa, peperangan atau yang lainnya. Karena salah satu tujuan adanya Syariat Islam adalah terjaganya jiwa, harta dan kehormatan.

Adanya uzur syari seperti ini membuktikan jika Islam adalah agama yang luwes dan tidak kaku. Luwes dalam hal praktik muamalahnya. Sementara dalam urusan akidah, sangat tegas seperti soal mengingkari kewajiban shalat.

Apakah Perlu Menqadha Shalat yang Ditinggalkan

Meninggalkan shalat ada dua sebab. Pertama karena ketidaksengajaan seperti lupa atau tertidur. Sementara kedua adalah kesengajaan seperti yang dibahas di atas.

Lalu apakah shalat yang telah ditinggalkan baik sengaja maupun tidak sengaja tetap harus diganti?

Dalam perkara ini, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa lupa shalat atau tertidur hingga meninggalkan shalat maka tebusannya adalah melaksanakan shalat tersebut ketika ia ingat.” (HR. Muslim)

Menurut hadits di atas, orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur maka ia wajib menggantinya pada saat ketika ia ingat.

Menurut sebagian ulama, hal yang sama berlaku bagi orang yang meninggalkan shalat secara sengaja. Ia wajib menggantinya. Alasannya jika tidak sengaja saja diwajibkan untuk mengganti terlebih lagi jika disengaja meninggalkan shalat.

Perbedaannya adalah, jika seseorang meninggalkan shalat karena tidak sengaja maka ia tidak berdosa. Lain halnya jika seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja maka hukumnya bermacam-macam seperti yang dibahas di atas.

Itulah beberapa pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Ada perbedaan pendapat adalah hal wajar di kalangan ulama fiqih. Tidak perlu menjadikan sebab kita berpecah belah.

Semoga kita dikuatkan menjadi insan yang terus istiqamah menjaga amalan shalat kita.

Jurnalis Media Islam. Penulis beberapa buku Islam. Orang Desa.

Leave a Comment